Jumat, 20 November 2009

HUTAN Di Brasil: Wilayah Kontestasi Politik Terpanas


Menteri Lingkungan Brasil Carlos Minc menuduh lembaga pemerintah lain yang tidak mematuhi hukum-hukum lingkungan demi proyek-proyek pembangunan Amazon. Kondisi itu pula yang, menurut Reuters dan Associated Press (1/6), menyebabkan mundurnya Menteri Lingkungan Marina Silva setahun sebelumnya. Ket.Foto: Hamparan luas lahan tanaman kedelai terlihat di dekat kota Santarem,Para, Brasil, Desember 2004. Menurut para aktivisling kungan, pertanian kedelaimembuat harga lahanhasil penggundulan hutan membubung tinggi.

Jalan raya itu konon akan memudahkan dan mengefisienkan akses transportasi petani dan peternak ke pasar. Namun, Minc mengingatkan, pengaspalan jalan raya BR-319 yang menembus jantung Amazon dari kota Manaus dan Porto Velho itu adalah bencana lingkungan karena melewati wilayah preservasi terbaik dari Amazon. Karena proses yang bertubi-tubi, pemerintah menunda sementara kontrak pembangunan BR-319, sampai 13 wilayah konservasi dibentuk.

Minc juga mengeluhkan usulan perubahan regulasi kehutanan yang melonggarkan upaya-upaya perlindungan lingkungan. Hal itu termasuk penambahan area untuk perubahan tata guna lahan dan mengurangi persyaratan untuk menghutankan kembali wilayah-wilayah hutan yang telah gundul.

Politik-ekonomi

Terkait dengan itu, Koordinator Kebijakan Publik Greenpeace di Brasilia, Rabu (4/11), mengatakan, kabar baik tentang menurunnya tingkat deforestasi tiga tahun terakhir ini tampaknya tak akan bertahan lama,
seiring dengan meningkatnya harga agrokomoditas, seperti kedelai dan daging sapi, yang membuat lesunya ekonomi dalam negeri.

”Deforestasi di Amazon berkelindan dengan siklus ekonomi. Kalau pertumbuhan turun, kegiatan deforestasi juga menurun, pun sebaliknya,” ujar Sergio Leitao, Direktur Kampanye Greenpeace, di Sao Paulo, Selasa (3/11).

Situasi itu digunakan Kongres Brasil yang dipengaruhi oleh sektor agrobisnis dan agroenergi untuk mencuri kesempatan mengubah peraturan dalam Forest Code.

Proposal yang diusulkan itu menambah persentase penggundulan dari 20 persen menjadi 50 persen di properti hutan yang menjadi otoritas petani di Amazon dan mengizinkan Legal Reserve—yakni kawasan yang menurut hukum boleh digunakan untuk kegiatan ekonomi, tetapi spesies lokalnya harus dilindungi—ditanami spesies asing, seperti pohon sawit untuk produksi bahan bakar dan eucalyptus untuk industri bubur kertas (pulp) dan arang.

Wilayah yang sudah kehilangan hampir 18 persen kawasan hutannya karena penebangan dan kebakaran hutan 40 tahun terakhir—lebih besar dari luas Perancis—mengalami kerusakan karena pembalakan dan kegiatan yang bersifat saling memangsa.

”Perubahan yang sedang didiskusikan kongres akan melegalisasi deforestasi 36 persen di tangan sektor swasta,” ujar Nilo.

Situasi itu berpotensi mendorong migrasi lebih besar, perampasan tanah, dan konflik hak-hak atas tanah di Amazon. Jutaan hektar hutan akan dilegalkan untuk ditebang dan dibakar demi kepentingan-kepentingan jangka pendek.

Forest Code 1965

Forest Code yang merupakan produk hukum tahun 1965 telah mengalami amandemen beberapa kali terkait perubahan arah politik-ekonomi di negeri itu. Forest Code mengatur wilayah yang membutuhkan perlindungan penuh (Permanent Protected Areas) di hutan publik maupun swasta untuk melindungi kawasan penyimpan air.

Wilayah yang tersisa boleh digunakan untuk kepentingan ekonomi, termasuk penebangan selektif, tetapi tak boleh dibabat bersih dan diubah tata guna lahannya (land clearing). Izin dari pemerintah dibutuhkan untuk penebangan selektif maupun land clearing di lahan milik swasta. Sampai tahun 1996, regulasi itu menetapkan bahwa Legal Reserve di Amazon sedikitnya meliputi 50 persen dari seluruh properti di pedalaman.

Setelah deforestasi di Amazon mencapai puncaknya tahun 1996, Presiden Hernando Cardoso menambah amandemen Forest Code dengan dekrit yang meningkatkan Legal Reserve sampai 80 persen. Dekrit MP 2166 itu merupakan ketetapan yang seharusnya didukung kongres agar menjadi definitif dan terintegrasi penuh dalam Forest Code.

”Namun, itu tak pernah terjadi,” ungkap Nilo. ”Perlindungan Amazon dan ekosistem lain di Brasil terus dilanggar.”

Hal itu disebabkan insentif pemerintah tidak kompatibel dengan Forest Code dan reforma lahan. Kesulitan lain adalah implementasi hak atas tanah karena banyaknya pendudukan tanah oleh pendatang dan kemungkinan pengambilalihan sehingga pemilik lahan memilih mengabaikan Forest Code.

Forest Code terus menghadapi tantangan dari sektor agribisnis yang punya lobi kuat di parlemen. ”Tahun 2001 muncul versi baru Dekrit MP 2166 yang merekonfirmasi Legal Reserve 80 persen di hutan-hutan Amazon dan 20 persen di ekosistem hutan lainnya di Brasil,” sambung Nilo.

Untuk mengakomodasi kebutuhan lobi pedesaan, MP 2166 mendefinisikan Legal Reserve di sabana-sabana (padang rumput tanpa pohon yang sangat luas) di Amazon boleh 35 persen (sebelumnya 50 persen sampai tahun 1996). Sabana terluas terdapat di Mato Grosso, meliputi sekitar 50 persen wilayah itu. Mato Grosso merupakan penghasil kedelai dan produk daging sapi terbesar di Brasil.

”Praktik peternakan sangat tidak produktif,” ujar Penasihat Senior The Nature Conservacy Bidang Kebijakan Konservasi di Kawasan Amerika Selatan Fernanda Viana de Carvalho. ”Di Negara Bagian Para rata-rata 0,9 kawanan ternak per hektar, rata-rata nasional 1,6.”

Sampai hari Rabu (4/11), kongres membatalkan pembahasan usulan perubahan Forest Code itu. ”Untuk sementara, kita merasa lega,” ujar Nilo.

Namun, Mario Manthovani dari SOS Atlantic Forest mengingatkan kemungkinan pembalasan dari kelompok yang menghendaki perubahan Forest Code. ”Di sini, orang bisa dibunuh karena persoalan ini. Pengusiran suku asli dari hutan mereka juga selalu menggunakan kekerasan,” ujar Mario.

Konflik kepentingan

”Pandangan menteri lingkungan tak bisa sejalan dengan menteri-menteri pembangunan (ekonomi),” ujar Osvaldo Stella Martins, Koordinator Peneliti dari Amazon Environmental Research Institute (IPAM), di Brasilia, Kamis (5/11).

Data resmi Lembaga Penelitian Ruang (INPE) pun bisa digunakan secara berbeda. ”Datanya sangat ilmiah, tetapi kebijakan yang dihasilkan bergantung pada kepentingan politik masing-masing,” ujar Jean Pierre Ometto, peneliti INPE.

Tajamnya konflik kepentingan di antara lembaga-lembaga memperlihatkan terkotak-kotaknya pemahaman tentang masalah hutan dan lingkungan. Hal itu terlihat jelas saat berbincang dengan para pejabat bidang komunikasi Departemen Pertanian, Edit Silva; dari Kementerian Pertambangan dan Energi, Fernando Henrique C Teixertrense; dan dari Kementerian Lingkungan, Ronie Lima.

Edit tidak menyangkal bahwa sektor pertanian (dan peternakan) sebagai penyumbang terbesar deforestasi. Akan tetapi, lapangan kerja dan pemenuhan kebutuhan pangan adalah soal serius dan rumit karena tekanan kependudukan. ”Sekitar 25 juta orang hidup dari hutan. Bagaimana mereka harus hidup,” tanya Edit.

”Memang kebutuhan pangan penting,” tukas Ronie. ”Namun, selama pola konsumsi dan produksi tak berubah, semua upaya menahan laju emisi karbon dioksida (CO) dengan mengurangi deforestasi sampai 80 persen tak ada artinya.”

Fernando mengungkapkan, kebutuhan lahan untuk perkebunan tebu, bahan dasar produksi etanol untuk energi bersih. Namun, disadari, hal itu akan berkonflik dengan kebutuhan lahan untuk pangan manusia dan ternak. ”Namun, dengan teknologi baru, produksi tebu bisa efektif di lahan kecil,” ujar Fernando.

Marina vs Dilma

Persoalan lingkungan tampaknya akan menajam dalam pemilu tahun 2010. Menteri Lingkungan Marina Osmarina da Silva yang mundur dari Partai Buruh akan menjadi calon presiden dari Partai Hijau.

Sementara itu, Presiden Luiz Inácio ”Lula” da Silva yang memenangi dua kali pemilu—menurut konstitusi, tak boleh ikut pemilu lagi—memilih Dilma Rousseff, Head of Staff lembaga kepresidenan, sebagai calon penggantinya dari Partai Buruh.

”Dilma bertanggung jawab atas revolusi pembangunan dengan konsep primitif,” ujar Osvaldo. ”Masalah lingkungan selalu ia pandang dalam perspektif ekonomi,” sambung Cláudio Angelo, editor sains harian terbesar di Sao Paulo, Folha de São Paulo.

Namun, perseteruan dua perempuan itu tampaknya tak akan lama. Menurut Gabriela Goes, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Politik Universitas Brasilia,

Marina yang didukung kelompok lingkungan dan Dilma yang didukung partai-partai beraliran kiri tengah akan berkoalisi menghadapi lawan yang tangguh, José Serra, yang didukung partai-partai beraliran kanan tengah.

(MARIA HARTININGSIH)

Jumat, 20 November 2009 | 04:50 WIB

0 komentar:

Poskan Komentar

UNDANGAN KAMPANYE DAN NONTON FILM CLIMATE CHANGE

Dear Greeners,
TCP Indonesia (LSM yang dibentuk oleh AL GORE) mengajak rekan-rekan untuk menghadiri kampanye antisipasi perubahan iklim di Teater Utan Kayu dan Dharmawangsa Square pada hari SABTU, 24 Oktober 2009. Acaranya GRATIS.

Detail informasi di bawah ini:

Salam lestari,

Leo
====================================================================================================
October 23rd, 2009, the next day, October 24th, in conjunction with the 'United Nations Day' and 'The International Day of Climate Action', 'The Climate Project Indonesia' will continue the campaign to a larger audience through organizing an event called "350. Berani?!" or "350. Dare?!" in 2 locations. "Teater Utan Kayu" and "Darmawangsa Square" This event is a cooperation between The Climate Project Indonesia, '89,2 FM Green Radio' and 'Life Begins @ 40'.

Why 350? 350 refers to 350 ppm, the save level of atmospheric CO2 concentration. In September 2009, the atmospheric CO2 concentration has reached 384.78 ppm.

Details of the event in each venue:

1. Teater Utan Kayu
Jl. Utan Kayu No. 68H, East Jakarta
Date: 24 October 2009
Time: 10.00 - 13.00 WIB

Program:

- Film Screening:
1. "Lakukan Sekarang Juga" or "Do it Now", a short film about the climate change and its impact within Indonesia context. A co-production of 'Kemitraan' and 'Dewan Nasional Perubahan Iklim'
2. Short films, winners of Think-Act-Change The Body Shop Documentary Film in 2007 and 2008
3. Discussion with Dorothy Manalu from DNPI and Suzy Hutomo from the Body Shop (Climate Change Campaigner trained by Mr.Al Gore)

- "The Green Lifestyle Clinics". Consult with our 'green' doctors to get tips on how to contribute to the efforts to tackle the climate crisis. Our 'green' doctors are: Dicky Edwin Hindarto (energy efficiency, carbon trading), Suzy Hutomo (green home & green business), Nana Firman (green architecture), Yani Saloh (garden & forestry) and Indra Prakoso (hobby).

- Signing of "Declaration to Secure our Future". This declaration was initiated by Mr. Al Gore with The Climate Project. The signing of this declaration is unique. It is written in a piece of fabric using Batik wax. The participants will sign the declaration with wax using 'canting' (the tool to make Batik). The signed declaration will then be processed to become a piece of Batik. We will send this piece of Batik to Al Gore who will bring it to COP 15 in Copenhagen.

- Music performances

2. Darmawangsa Square The City Walk
Jl. Darmawangsa VI & IX, South Jakarta
Date: 24 October 2009
Time: 14.30 - 17.00 WIB

Program:

- Photo exhibition and slide show. "Images of the Climate Change". A collaboration between The Climate Project Indonesia with its partners such as CIFOR, Fauna Flora International, Jakarta Green Monster, and many other organisations

- "The Green Lifestyle Clinics". Consult with our 'green' doctors to get tips on how to contribute to the efforts to tackle the climate crisis. Our 'green' doctors are: Dicky Edwin Hindarto (energy efficiency, carbon trading), Suzy Hutomo (green home & green business), Nana Firman (green architecture), Yani Saloh (garden & forestry) and Indra Prakoso (green hobby).

- Signing of "Declaration to Secure our Future". This declaration was initiated by Mr. Al Gore with The Climate Project. The signing of this declaration is unique. It is written in a piece of fabric using Batik wax. The participants will sign the declaration with wax using 'canting' (the tool to make Batik). The signed declaration will then be processed to become a piece of Batik. We will send this piece of Batik to Al Gore who will bring it to COP 15 in Copenhagen.

- Music performances

Our special guest stars are among others Debra Yatim (poet/writer), Mira Asmara-Ridhwan (actor, TV presenter), Zulaika (Singer), Andreas Arianto (Musician), and many more.

This event is supported by 'The Body Shop Indonesia', 'Polygon Cycle', 'Selendang Nusantara - Sahabat Museum Tekstil - Batik Lovers Network - Batik Tulis Bergerak', 'Center for International Forestry Research', 'Fauna & Flora International', 'Jakarta Green Monster', 'World Wildlife Fund', 'Greenpeace', 'Climate Justice' and many other NGOs, institutions and individuals, friends of The Climate Project Indonesia.

For further information on this event, send e-mail to The Climate Project Indonesia or Arif Hasyim or send SMS to +62 817 006 1111.

Warm regards,

The Climate Project Indonesia
The Climate Project (TCP) is an international non-profit organization founded by Nobel Laureate and former US Vice President Al Gore with a mission to increase public awareness of the climate crisis at a grassroots level worldwide. TCP Indonesia operates independently as a non-profit organization with assistance from the Indonesian National Council on Climate Change. It aims at communicating climate change, the sciences, the challenges and the solutions to the climate crisis as an effort towards low carbon sustainable development for Indonesia.

e-Billing Kartu Kredit BNI

e-Billing Kartu Kredit BNI
Mari bergabung dengan paperless society untuk anda pemegang kartu kredit BNI

Pegunungan di Magelang

Pegunungan di Magelang
Pemandangan Alam Yang Indah di Magelang

Recent Comments