Kamis, 18 Februari 2010

Tiras dan Royalti, Pokok Masalah Perbukuan

Menulis Buku untuk Personal Branding

Tiras buku yang kecil menjadi penyebab rendahnya royalti yang diterima para penulis buku. Hal ini berdampak pada kurangnya minat para intelektual Indonesia untuk menulis buku.

”Sejauh ini, tiras buku umumnya adalah 3.000 eksemplar. Untuk buku yang bagus, buku-buku itu baru habis setelah enam bulan. Dan, penerbit rata-rata memberikan royalti 10 persen brutto dikurangi pajak penghasilan 10 persen atau 15 persen neto,” ujar Firdaus Umar dari Penerbit Mutiara Sumber Widya Jakarta dan Angkasa, Bandung, kepada Kompas, Selasa (16/2) di Jakarta.

Dalam hal penerbitan buku, umumnya penerbit menangani semua seluk-beluk penerbitan sejak naskah disetujui, digarap tata letak dan sampul, pencetakan, hingga distribusi. Penerbit pula yang menentukan harga buku. ”Jika buku baru itu dijual Rp 50.000, misalnya, penulis akan mendapatkan royalti Rp 4.250 per buku, yaitu 10 persen dari harga buku dikurangi pajak penghasilan 10 persen,” kata Firdaus Umar.

Ia mengatakan, selama ini penerbit rata-rata menerbitkan 3.000 buku per judul. Jika buku tersebut habis terjual, misalnya, penulis akan mendapatkan royalti Rp 12.750.000. ”Jumlah itu baru bisa dicapai setelah sekian lama dan penulis akan mendapatkan laporan setiap enam bulan. Dari penerbit, toko buku mendapatkan potongan 30 persen. Dengan demikian, penerbit mengantongi 60 persen dari harga buku,” kata Firdaus Umar.

Kecilnya royalti dan tiras itulah yang sering kali menyurutkan niat para penulis untuk membuat buku. Dan, untuk sejumlah penerbit, kini lebih baik mengalihkan penerbitan pada buku agama atau buku terjemahan.

”Sulitnya mendapatkan naskah asli lokal ataupun nasional ini perlu diangkat dalam Konferensi Kerja Ikatan Penerbit Indonesia. Masalah ini harus dipecahkan,” ujar Firdaus.

Dampak

Sementara itu, Wandi S Brata, Direktur Penerbit Gramedia Pustaka Utama, mengemukakan, memang rupiah yang diperoleh dari buku itu kecil dan tidak menarik bagi orang-orang miopi.

”Tetapi, kita sering lupa, buku ini merupakan personal branding atau pembangun citra. Pendapatan memang tidak seberapa, tetapi dengan hadirnya buku itu, sang penulis akan dianggap sebagai ahlinya. Dampak lebih lanjut, sang penulis akan sering diundang untuk berbicara mengenai apa yang ditulis. Hasil sampingan ini bisa jauh lebih besar dari royalti buku,” ujarnya.

Secara terpisah, Heruprajogo Moektijono, ayah siswa SMA Tobi Moektijono, yang menulis buku Kumpulan Soal-soal Matematika Unik, di Jakarta, Senin (15/2), mengatakan, minat baca masyarakat yang masih rendah membuat buku-buku serius, seperti buku matematika, tidak terlalu diminati pasar. Jika berbicara soal pendapatan, buku dengan genre itu sebenarnya tidak terlalu menguntungkan. ”Saya sengaja memilih penerbit besar supaya lebih mudah pemasarannya dan percaya laporan penjualannya. Honor yang didapat hitungannya 10 persen dari harga jual setiap buku,” ujarnya

Menurut Heruprajogo, sebenarnya honor dari penerbitan buku anaknya tidak sebanding dengan biaya untuk menghasilkan soal-soal unik matematika ala Tobi. ”Tapi, yang penting ilmu yang dimiliki anak saya bisa disebarluaskan agar anak-anak lain menyukai matematika,” ujarnya.(TON/ELN)

0 komentar:

Poskan Komentar

UNDANGAN KAMPANYE DAN NONTON FILM CLIMATE CHANGE

Dear Greeners,
TCP Indonesia (LSM yang dibentuk oleh AL GORE) mengajak rekan-rekan untuk menghadiri kampanye antisipasi perubahan iklim di Teater Utan Kayu dan Dharmawangsa Square pada hari SABTU, 24 Oktober 2009. Acaranya GRATIS.

Detail informasi di bawah ini:

Salam lestari,

Leo
====================================================================================================
October 23rd, 2009, the next day, October 24th, in conjunction with the 'United Nations Day' and 'The International Day of Climate Action', 'The Climate Project Indonesia' will continue the campaign to a larger audience through organizing an event called "350. Berani?!" or "350. Dare?!" in 2 locations. "Teater Utan Kayu" and "Darmawangsa Square" This event is a cooperation between The Climate Project Indonesia, '89,2 FM Green Radio' and 'Life Begins @ 40'.

Why 350? 350 refers to 350 ppm, the save level of atmospheric CO2 concentration. In September 2009, the atmospheric CO2 concentration has reached 384.78 ppm.

Details of the event in each venue:

1. Teater Utan Kayu
Jl. Utan Kayu No. 68H, East Jakarta
Date: 24 October 2009
Time: 10.00 - 13.00 WIB

Program:

- Film Screening:
1. "Lakukan Sekarang Juga" or "Do it Now", a short film about the climate change and its impact within Indonesia context. A co-production of 'Kemitraan' and 'Dewan Nasional Perubahan Iklim'
2. Short films, winners of Think-Act-Change The Body Shop Documentary Film in 2007 and 2008
3. Discussion with Dorothy Manalu from DNPI and Suzy Hutomo from the Body Shop (Climate Change Campaigner trained by Mr.Al Gore)

- "The Green Lifestyle Clinics". Consult with our 'green' doctors to get tips on how to contribute to the efforts to tackle the climate crisis. Our 'green' doctors are: Dicky Edwin Hindarto (energy efficiency, carbon trading), Suzy Hutomo (green home & green business), Nana Firman (green architecture), Yani Saloh (garden & forestry) and Indra Prakoso (hobby).

- Signing of "Declaration to Secure our Future". This declaration was initiated by Mr. Al Gore with The Climate Project. The signing of this declaration is unique. It is written in a piece of fabric using Batik wax. The participants will sign the declaration with wax using 'canting' (the tool to make Batik). The signed declaration will then be processed to become a piece of Batik. We will send this piece of Batik to Al Gore who will bring it to COP 15 in Copenhagen.

- Music performances

2. Darmawangsa Square The City Walk
Jl. Darmawangsa VI & IX, South Jakarta
Date: 24 October 2009
Time: 14.30 - 17.00 WIB

Program:

- Photo exhibition and slide show. "Images of the Climate Change". A collaboration between The Climate Project Indonesia with its partners such as CIFOR, Fauna Flora International, Jakarta Green Monster, and many other organisations

- "The Green Lifestyle Clinics". Consult with our 'green' doctors to get tips on how to contribute to the efforts to tackle the climate crisis. Our 'green' doctors are: Dicky Edwin Hindarto (energy efficiency, carbon trading), Suzy Hutomo (green home & green business), Nana Firman (green architecture), Yani Saloh (garden & forestry) and Indra Prakoso (green hobby).

- Signing of "Declaration to Secure our Future". This declaration was initiated by Mr. Al Gore with The Climate Project. The signing of this declaration is unique. It is written in a piece of fabric using Batik wax. The participants will sign the declaration with wax using 'canting' (the tool to make Batik). The signed declaration will then be processed to become a piece of Batik. We will send this piece of Batik to Al Gore who will bring it to COP 15 in Copenhagen.

- Music performances

Our special guest stars are among others Debra Yatim (poet/writer), Mira Asmara-Ridhwan (actor, TV presenter), Zulaika (Singer), Andreas Arianto (Musician), and many more.

This event is supported by 'The Body Shop Indonesia', 'Polygon Cycle', 'Selendang Nusantara - Sahabat Museum Tekstil - Batik Lovers Network - Batik Tulis Bergerak', 'Center for International Forestry Research', 'Fauna & Flora International', 'Jakarta Green Monster', 'World Wildlife Fund', 'Greenpeace', 'Climate Justice' and many other NGOs, institutions and individuals, friends of The Climate Project Indonesia.

For further information on this event, send e-mail to The Climate Project Indonesia or Arif Hasyim or send SMS to +62 817 006 1111.

Warm regards,

The Climate Project Indonesia
The Climate Project (TCP) is an international non-profit organization founded by Nobel Laureate and former US Vice President Al Gore with a mission to increase public awareness of the climate crisis at a grassroots level worldwide. TCP Indonesia operates independently as a non-profit organization with assistance from the Indonesian National Council on Climate Change. It aims at communicating climate change, the sciences, the challenges and the solutions to the climate crisis as an effort towards low carbon sustainable development for Indonesia.

e-Billing Kartu Kredit BNI

e-Billing Kartu Kredit BNI
Mari bergabung dengan paperless society untuk anda pemegang kartu kredit BNI

Pegunungan di Magelang

Pegunungan di Magelang
Pemandangan Alam Yang Indah di Magelang

Recent Comments